https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaTGwVf_AxlPGk3u901jzcWDj1hkJCijbXZNRpObs2yl8qKZGOE4tR6Q10e46uPlzZWQ_VytjWXxYKc7N4kychw-qmapNp4HvbydymnBalt_iaa4MHTK5zuLqskfseCgbh9nsBDiDULQzi/s728/BANNER+DONASI.jpg

Ibunya Sufyan Ats-Tsaury | IBUNDA TELADAN




Sufyan ats-Tsaury adalah tokoh besar tabi’ at-tabi’in. Ia seorang fakih yang disebut dengan amirul mukminin fil hadits (pemimpin umat Islam dalam hadits Nabi). Di balik ulama besar generasi ketiga ini, adaseorang ibu yang shalihah. Ibu yang mendidik dan menginfakkan waktu untuk membimbingnya.


Sufyan mengisahkan, “Saat aku berencana serius belajar, aku bergumam, ‘Ya Rab, aku harus punya penghasilan (untuk modal belajar pen.)’. Sementara kulihat ilmu itu pergi dan menghilang. Apakah kuurungkan saja keinginan belajar. Aku memohon kepada Allah agar Dia (Yang Maha Pemberi rezeki) mencukupiku”.



Ketika Sufyan Ats-Tsaury merasa bimbang : 

jika menuntut ilmu, maka butuh modal dan bekal.

Jika mencari modal dan bekal tidak bisa fokus belajar.

Karena ilmu itu mudah pergi dan menghilang.


Datanglah pertolongan Alloh melalui ibunya. Ibunya berkata, 

“Wahai Sufyan anakku, belajarlah.. aku yang akan menanggumu dengan usaha memintalku”.


Ibunya menyemangati, menasihati, dan mewasiatinya agar semangat menggapai pengetahuan. Di antara ucapan ibunya adalah 

“Anakku, jika engkau menulis 10 huruf, lihatlah! Apakah kau jumpai dalam dirimu bertambah rasa takutmu (kepada Alloh), kelemah-lembutanmu, dan ketenanganmu? 

Jika tidak kau dapati hal itu, ketahuilah ilmu yang kau catat berakibat buruk bagimu. Ia tidak bermanfaat untukmu”.


Inilah di antara bentuk perjuangan ibu Sufyan ats-Tausry. 

Posting Komentar

0 Komentar