https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhaTGwVf_AxlPGk3u901jzcWDj1hkJCijbXZNRpObs2yl8qKZGOE4tR6Q10e46uPlzZWQ_VytjWXxYKc7N4kychw-qmapNp4HvbydymnBalt_iaa4MHTK5zuLqskfseCgbh9nsBDiDULQzi/s728/BANNER+DONASI.jpg

KEISTIMEWAAN ORANG YANG ISTIQOMAH


Setiap diri kita menginginkan kebaikan,
Apalagi kebaikan untuk meraih cinta dan ridha Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ketika kita menempuh jalan kebaikan,
Maka, di sana akan ada rintangan,
Diantara rintangan yang sering muncul,
Ialah rasa futur.

Bisa kita rasakan,
Awal-awal kita melakukan kebaikan,
Terasa kobaran semangat membara,
Sehingga di dalam kita beramal terasa ringan.

Namun, seiring waktu,
Tiba-tiba muncul sebuah rasa,
Yang mengurangi kobaran semangat melakukan kebaikan,
Maka, disaat hal itu terjadi pada kita,
Segeralah minta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
Agar Allah menetapkan hati kita di atas kebaikan,
Mudah menempuh jalan keistiqomahan.

Istiqomah memang berat dan sulit,
Tak semudah diucapkan dengan lisan,

Namun,
Istiqomah sangat dicintai oleh Allah subhanahu wa ta'ala,
Disamping itu,
Ternyata kalau kita bisa Istiqomah dalam melakukan amal kebaikan,
Akan mendapatkan keutamaan yang sangat besar.

Diantaranya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam hadits ini:

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari)


Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,

وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فَمَنَعَ مِنْهَا وَكَانَتْ نِيَّته لَوْلَا الْمَانِع أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا
“Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.” (Fath Al-Bari)

Posting Komentar

0 Komentar