MACAM-MACAM ROJA'


šŸŒ¹ *MACAM-MACAM ROJA'*

šŸŒ»šŸŒ»šŸŒ»šŸŒ»šŸŒ»šŸŒ»šŸŒ»šŸŒ»šŸŒ»šŸŒ»šŸŒ»

Kita ketahui bahwa roja' (Rasa harap) kepada Alloh adalah ibadah hati yang besar.

Lalu bagaimana hukumnya Roja' yang ditujukan kepada selain Alloh?

Apakah semuanya terlarang?
Apakah semuanya diperbolehkan?

 Roja' kepada selain Alloh ada beberapa keadaan:

*1. Roja' Tabiat* : seperti kita berharap kepada seorang yang memiliki.
Contoh: saya berharap kamu melakukan hal ini.
Maka roja' yang demikian tidaklah mengapa, karena hal itu dalam hal batas kemampuan manusia. 

*2. Roja' (berharap) manfaat dari sebuah sebab dengan menggantungkan hati hanya kepada Alloh.*
Contoh: kita pergi berobat ke dokter dan hati kita bergantung hanya kepada Alloh bahwa hanya Ia Pemberi kesembuhan. Kemudian diberi obat, kita pun berharap obat ini memberikan manfaat (kesembuhan) dengan izin Alloh. Maka harapan kita agar sebab tersebut memberikan manfaat dengan hati yang bergantung hanya kepada Alloh, tidaklah ada masalah. Tentunya yang demikian, selama sebabnya adalah sebab yang diperbolehkan secara syariat.

*3. Roja' yang terlarang:* yaitu ketika seorang berharap kepada makhluk sebuah manfaat, atau berharap agar dihindarkan dari keburukan, atau harapan kebaikan, kemudahan dan atau kelapangan kepada penghuni kubur, dari seorang wali sholeh yang semuanya tidak mampu memberikan manfaat untuk dirinya sendiri terlebih untuk orang lain. Maka yang demikian adalah termasuk kesyirikan (menyekutukan Alloh).

Karena tidaklah seseorang berharap kepada selain Alloh seperti harapan tersebut kecuali terdapat dalam hatinya pengagungan terhadap wali/orang sholeh tersebut, dan keyakinan bahwa mereka dapat memberikan manfaat atau bahkan keyakinan mereka mampu mengatur bersama Alloh Subhanahu wa ta'ala. Ketika itu berarti seseorang telah memperuntukkan ibadah roja' kepada selain Alloh. Maka ini adalah kesyirikan.

Singkat kata, Roja' kepada Alloh adalah sebuah ibadah dan pendekatan diri kepada-Nya. Siapa yang menggantungkan harapannya kepada Alloh niscaya tidak akan sia-sia. Maka gantungkan hati hanya kepada-Nya, Dzat yang maha menciptakan cita-cita kita, Dzat yang mengatur segala urusan. Berharaplah kepada-Nya kebaikan dunia dan akhirat.

šŸ“š _Disarikan dari : Taqribul Wushul ila tsalaatsatil Ushul/ Dr. Manshur Bin Muhammad Ash-Shoq'ub._

✍ Abu Ali, BA.

Posting Komentar

0 Komentar