SUDAH TAHU ITU DOSA, TAPI MASIH MELAKUKANNYA


 *_TANYA USTADZ*_
➖➖➖➖➖➖➖➖


Bismillah ..

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 *Group  :*Tebar Dakwah Akhwat 4* 

 *Nama* : _Ukhty_Neni_

 *Domisili*  : _Tuban jawa timur_

*Pertanyaan* : _Kalau dia tau bahwa itu adalah suatu dosa tapi tetep dilakukan lagi, gitu gimana, dan beranggapan bahwa Allah itu maha pengampun_




Jazakumullahu Khairan
_____________________
🌹 *Tebar dakwah akhwat 4*🌹

▶️ *JAWABAN*: 

Wa alaikumussalaamu wa rohmatulloh

Bismillah, walhamdulillah, wasshalaatu wassalaamu 'ala Rasulillah. Amma ba'du:

Alloh Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا ٱلتَّوۡبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِینَ یَعۡمَلُونَ ٱلسُّوۤءَ بِجَهَـٰلَةࣲ ثُمَّ یَتُوبُونَ مِن قَرِیبࣲ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ یَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَیۡهِمۡۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِیمًا حَكِیمࣰا)
Sesungguhnya Alloh hanya menerima taubat bagi mereka yang melakukan kemaksiatan karena kejahilan (ketidaktahuan), kemudian mereka segera bertaubat. Taubat mereka itulah yang diterima Alloh. Dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [Surat An-Nisa' 17]

Syaikh As-Sa'di ketika menafsirkan ayat ini beliau berkata:
Firman Alloh: بِجَهَالَةٍ (kejahilan/ketidaktahuan) maknanya: ketidaktahuan tentang akibatnya. Ketidaktahuan bahwa maksiat menyebabkan murka Alloh dan siksaNya. Kejahilan bahwa Alloh melihat dan mengawasinya. Kejahilan bahwa maksiat yang ia lakukan akan menyebabkan kurang dan hilangnya keimanan. Seluruh yang berbuat maksiat dia jahil dari segi ini walaupun dia mengetahui hukumnya adalah haram. Mengetahui keharaman adalah syarat hal itu menjadi kemaksiatan yang akan dibalas. (Tafsir As-Sa'di) 

Adalah sifat manusia banyak berbuat salah. Akan tetapi sebaik-baik mereka adalah yang banyak bertaubat. Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ بني آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Setiap bani adam banyak berbuat dosa dan Sebaik-baik mereka yg banyak berbuat dosa adalah yang banyak pula taubat (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim.) 

Hendaknya kita takut kepada Alloh dan tidak keterusan dalam dosa. Terus menerus dalam dosa akan menjadikan dosa kecil menjadi besar. Seperti gunungan pasir adalah pasir kecil yang menumpuk. 

Ibnu Abbas berkata: 

لا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ، وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ
Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus. 

Kewajiban kita adalah segera bertaubat kepada Alloh. Alloh Ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ 
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak terus-menerus berbuat dosa itu, sedang mereka mengetahui. (Ali Imran 135)

Diantara tanda keimanan seorang hamba adalah merasa senang jika berbuat kebaikan dan tidak suka dengan kesalahan/atau dosa yang ia kerjakan, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ، فَهُوَ مُؤْمِنٌ
Siapa yang senang dengan perbuatan baiknya dan tidak suka terhadap perbuatan buruknya maka dia adalah mukmin. (HR. Ahmad) 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menerangkan keadaan orang yang beriman, beliau mengatakan:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk dibawah sebuah gunung yang ia khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya. (HR. Bukhari: 6308)

Benar, Alloh adalah Maha Pengampun, meskipun dosa hamba sebanyak buih yang ada dilautan atau setinggi langit yang tinggi menjulang. Janji Alloh adalah ampunan bagi hambaNya. ini adalah dorongan bagi hambaNya untuk segera bertaubat dan tidak merasa malu untuk kembali kepadaNya, karena Alloh Maha Pengampun. 

Akan tetapi hendaknya kita tidak terjerumus pada perangkap syaithon. Sehingga kita hanya berharap kepada ampunanNya tapi lupa dari rasa takut kepada adzabNya. Seorang mukmin hendaknya seimbang antara Roja(harapan) dan khouf (rasa takut). Keduanya ibarat sayap bagi burung. Jika tak seimbang, maka akan terjatuh. 

Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kita, dan dosa kaum muslimin. 

WaAllohu Ta'ala a'lam.

Di tulis oleh
*Ust Idwan Cahyana BA.*
_Pembina Group Tebar Dakwah._
_Alumni LIPIA jakarta._

Posting Komentar

0 Komentar